Jumat, 30 November 2012

Berbuka Puasa Bersama Komunitas Syiah




Biasanya pada umumnya kita saat berbuka puasa akan segera makan/minum begitu mendengar adzan magrib sudah berkumamndang. Sehingga tidak ada acara yang paling menarik yang ditunggu-tunggu selain Adzan maghrib di bulan puasa. Karena itu Adzan Maghrib sama artinya dengan buka puasa. Apalagi dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan melarang untuk mengundurkan. Maka segera kita akan melihat di kereta-kereta orang segera ribut membuka minuman dan makanan bekal untuk berbuka. 

Tetapi hal itu tidak akan terjadi pada saat buka puasa dengan komunitas kaum Syiah. Di komunitas Syiah, buka puasa tidak sama artinya dengan adzan Maghrib, sebagaimana sebagaimana orang Suni. Seperti acara buka puasa bersama yang diadakan di Komplek Yayasan Islamic Cultural Centre ( ICC ) Al-Huda di Warung Buncit tidak jauh dari Republika, persis di samping Halte Busway Pejaten Phillips.

Ketika suara Adzan Maghrib terdengar berkumandang dari Masjid yang tidak jauh dari Yayasan, para jamaah masih terduduk mendengarkan ceramah. Bahkan Ustad yang memberikan ceramah belum menunjukkan tanda-tanda ceramah akan selesai. Baru setelah suara adzan tidak terdengar lagi penceramah selesai memberikan ceramah. Segera berbuka ? tidak ! pak Ustad memberikan waktu bagi para jamaah untuk mengajukan pertanyaan.

Pada saat adzan Maghrib dan ceramah itu biasanya diketahui orang syiah atau bukan. Orang Sunni biasanya kalau sudah adzan Maghrib duduknya mulai gelisah tidak tenang menunggu kapan ceramah selesai, tetapi tidak begitu dengan orang Syiah. Orang Syiah beranggapan menyegerakan berbuka tidak sama artinya dengan adzan maghrib langsung makan/minum. Tetapi menyegerakan berbuka itu adalah makan/minum sebelum adanya kewajiban berpuasa lagi, berarti hari berikutnya.

Nah setelah ceramah selesai, dan diperkirakan sisa-sisa sinar matahari tidak lagi kelihatan, baru para jamaah dipersilahkan untuk berbuka. Biasanya bagi jamaah biasa, kesempatan itu dipergunakan untuk sesegera mungkin mengambil makan/minum, biasalah seperti pada umumnya orang Sunni, berupa kolak atau apa saja yang juga kita jumpai dimana-mana. Tetapi bagi orang yang (katakanlah orang saleh)  biasanya segera merapat dan bersiap untuk sholat Maghrib terlebih dahulu. Karena di Syiah dianjurkan untuk sholat Maghrib terlebih dahulu dari pada berbuka puasa.

Adzan maghrib berkumndang ( Adzan-nya sedikit berbeda dengan adzan-nya orang Sunni ) dan sholat Maghrib pun tiba. Para jamaah yang biasa, segera kembali menuju barisan, setelah berwudhu tentunya. Setelah Imam mengumandangkan iqamah, sholat magrib di laksanakan. Iqamah yang membacakan imam, karena Imamlah yang mengajak untuk sholat berjamaah.
Setelah sholat Maghrib selesai dilanjutkan dengan sholat Isya’ berjamaah. Jangan salah duga, ini bukan sholat kaum musafir. Pada fikih Syiah waktu sholat itu ada 3 waktu. Waktu sholat Fajar (Shubuh), Waktu siang ( Dhuhur & Asar ) dan Waktu sholat Malam ( Maghrib & Isya’). Waktu sholat Dhuhur & Asar beriringan yang jarak keduanya tidak lebih dari 10-15 menit kira-kira dari awal waktu dhuhur. Hal yang sama dengan jarak antara Maghrib dan Isya. Tetapi Afdolnya wakatu sholat, sama seperti waktu sholat penganut Sunni, yang pada umumnya orang Indonesia.

Jadi kira-kira, kalau Adzan Magrib di Jakarta pkl 17.50 maka buka puasa orang Syiah antara pkl 18.15 – 18.30.
Acara makan besar selesai, para jamaah segera bersiap pulang ke rumah masing-masing. Di Madzab Syiah tidak ada Sholat Taraweh, yang ada sholat lail yang dikerjakan sendiri-sendiri di rumah, seperti sholat biasa. Tetapi untuk qiyamul lail ini, di madzab Syiah doanya panjang-panjang, bisa sampai tengah malam.
Di tahun yang lalu ada kejadian lucu. Ketika pemberi ceramah adalah seorang Ayatollah yang datang dari Iran, Ayatollah Syaikh Jakfar Hadi, jumlah jamaah yang datang melebihi kapasitas dan juga konsumsi yang disediakan.

Tidak jelas apakah makanan itu model Iran atau bukan, tetapi ada 3 bagian makan untuk makan besar yakni Nasi, Lauk dan Lalap. Lalapannya itu mirip rumput dan tidak terbiasa aku jumpai di orang penjual pecel lele/ayam di pinggir jalan. Karena yang hadir diluar perkiraan maka panitia kewalahan juga. Mulanya rapi dibagikan nasi, daging & lalapan. Bagi jamaah yang duduk di dekat dengan jalur Sutra makan dapat satu set lengkap. Tetapi karena terlalu lama menunggu orang yang agak jauh tidak sabar juga. Kalau ini sih kelakukan lintas madzab, karena kekawatiran akan hajat hidup terganggu hehehehe…, maka yang belakang segera maju dan meminta. Al-hasil panitia semakin bingung dan asal-asalan. Akhirnya ada sekelompok jamaah yang mendapat nasi saja, ada sekelompok yang mendapat lauk saja dan ada yang mendapat Lalapan saja.
Aku termasuk orang yang mendapat lalapan saja. Itu yang terhidang di depan kita. Karena hanya lalapan saja tentu saja tidak dimakan. Dan iseng akupun mengumpulkan beberapa piring lalapan itu menjadi satu dan terlihat seperti rumput di atas piring. Banyak orang yang tersenyum memandang karena mirip dengan seonggok rumput untuk makanan kambing.

"artikel di ambil dari pengakuan pengikut syi'ah awam

JANGAN KELIRU MENILAI SYI'AH!


Syi’ah di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari.

Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang islam yang awam meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya. Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama.
Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi terutama dari segi aqidah perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Asal-usul Syi’ah

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al- Himyari.

Abdullah bin Saba’ asalnya seorang Yahudi dari Shan’a (ibu kota Yaman), ibunya seorang wanita kulit hitam. Ia masuk Islam pada masa kekhalifahan Ustman. Orang ini menaruh dendam terhadap Islam karena berhasil melenyapkan kekuasaan dan mengusir bangsa Yahudi dari Tanah Arab. Ia hidup berpindah-pindah tempat dari Hijaz, kemudian ke Bashrah, lalu ke Kufah, lalu ke Syam. Disetiap tempat yang ia kunjungi ia selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar.
Namun karena tidak mendapat tanggapan dari kaum muslimin disana, Ia pun  pergi ke Mesir. Disana beliau banyak mendapatkan pengikut dan mengajarkan ajaran “inkarnasi” beliau mengatakan kepada masyarakat;"Saya sungguh heran dengan orang yang mengatakan bahwa kelak Isa akan kembali lagi, sedang mereka tidak percaya akan kembalinya Ali dikemudian hari…. Ali lah yang lebih patut untuk kembali ke dunia ini dari pada Isa…”.

Pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’ mengatakan bahwa inkarnasi-nya Ali adalah bagian dari ketuhanan Ali. Mereka percaya bahwa Ali tidak mati karena mengandung unsur ketuhanan. Ali lah yang membawa awan, petir adalah suara Ali, dan kilat adalah alamatnya.


Di antara fitnah-fitnah dan slogan keji yang telah ditabur oleh Abdullah bin Saba’ ialah:


 1. Mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib telah menerima wasiat sebagai Khalifah Rasulullah. 

 2. Menuduh Ali bin Abi Thalib sebagai pencipta segala makhluk dan pemberi rezeki.

 3. Melakukan kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau tidak mati, dia tetap hidup di awang-awangan. Petir adalah pekikan Ali ketika marah dan kilat adalah cemeti Ali.

 4. Menuduh Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan radiallahu ‘anhum sebagai orang-orang zalim (kafir) kerana merampas hak khalifah Ali setelah wafatnya Rasulullah. Dan semua umat yang membaiat khalifah ketika itu adalah kafir. 

 5. Para roh suci atau roh al-Qudus berinkarnasi ke dalam diri para Imam Syiah.



Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi Shalallahu alaihi wasalam. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah AbuBakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa 4/435, Abdullah bin Saba' menampakkan sikap ekstrim di dalam memuja Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).


Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.


Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syi'ah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syi'ah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri. (mrs)
 sumber:koepas.com

Perayaan Asyura aliran sesat Syiah di Kuwait 2012



Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi kenikmatan Islam, untuk anda semua yang ingin mengetahui bagaimana ritual sesat Agama Syi’ah, berikut kami tunjukkan apa yang mereka kerjakan saat perayaan Asyura di Kuwait tahun 2012. apakah amalan ini sebuah ibadah..?!! apakah amalan ini dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya..?!!
mari kita bentengi kaum Muslimin dari kesesatan-kesesatan Syi’ah !

Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syiah


Pada hari-hari ini, kita melihat bahwa kaum Syi’ah sibuk menyebarkan lembaran-lembaran dari beberapa tokoh yang berisi beberapa pernyataan bahwa agama Syi’ah tidak sesat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syi’ah, pada negeri tempat mereka menganggap diri-diri mereka sebagai kaum minoritas, untuk menyerukan pendekatan atau persatuan antara Sunni dan Syi’ah serta yang semisalnya. Seluruh hal tersebut adalah upaya untuk mengaburkan sikap ulama Islam terhadap agama Syi’ah.
Berikut beberapa ucapan ulama kaum muslimin tentang agama Syi’ah agar umat Islam mengetahui bagaimana sikap ulama Islam yang sesungguhnya terhadap agama Syi’ah.
1. Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahulllâh (W. 62 H)
Beliau berkata,

لقد غلت هذه الشيعة في علي رضي الله عنه كما غلت النصارى في عيسى بن مريم

“Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]
2. Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H)
Beliau bertutur,

ما رأيت قوماً أحمق من الشيعة

“Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syi’ah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalamAs-Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh7/1461]
Beliau juga bertutur,

نظرت في هذه الأهواء وكلمت أهلها فلم أر قوماً أقل عقولاً من الخشبية

“Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan saya telah berbicara dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]
3. Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H)
Beliau berkata,

الرافضة لا تنكح نساؤهم، ولا تؤكل ذبائحهم، لأنهم أهل ردة

“(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya karena mereka adalah kaum murtad.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]
4. Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
Beliau berucap,

الجماعة أن تفضل أبا بكر وعمر وعلياً وعثمان ولا تنتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ustman, serta janganlah engkau mencela seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]
5. Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W. 155 H)
Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis’ar berkata,

تنح عني فإنك شيطان

“Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaithan.” [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah 8/1457]
6. Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H)
Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab,

كافر بالله العظيم

“(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”
Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?”
(Sufyân) menjawab,

لا، ولا كرامة

“Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya?”
Beliau menjawab,

لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه في قبره

“Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.” [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7/253]
7. Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H)
Beliau bertutur,

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، ليس لهم سهم، أوقال نصيب في الإسلام

“Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bagian apapun dalam keislaman.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah maka Imam Malik menjawab,

لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون

“Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalamMinhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]
8. Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H)
Beliau berkata,

لا أصلي خلف جهمي، ولا رافضي، ولا قدري

“Saya tidak mengerjakan shalat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary (penganut paham Qadariyah).” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 4/733]
9. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H)
Beliau berucap,

هما ملتان: الجهمية، والرافضة

“Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.), yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]
10. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H)
Beliau berkata,

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]
11. Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H)
Beliau berkata,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]
12. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H)
Beliau berkata,

ما أرى الرافضة والجهمية إلا زنادقة

“Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]
13. Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H)
Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,

فلم نؤمر إلا بالاستغفار لهم، فمن يسبهم، أو ينتقصهم أو أحداً منهم، فليس على السنة، وليس له في الفئ حق

“Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam fâ`i.” [Ushûl As-Sunnah hal.43]
14. Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H)
Beliau berkata,

عاشرت الناس، وكلمت أهل الكلام، وكذا، فما رأيت أوسخ وسخاً، ولا أقذر قذراً، ولا أضعف حجة، ولا أحمق من الرافضة …

“Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah berbicara dengan ahli kalam dan … demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/499]
15. Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H)
Beliau berkata,

إنا لا نأكل ذبيحة رجل رافضي، فإنه عندي مرتد

“Sesungguhnya kami tidaklah memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia, menurut Saya, adalah murtad.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/459]
16. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H)
Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah:
Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

“Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab,“Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau ditanya pula tentang orang yang bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab.

لا، وإذا سلم عليه لا يرد عليه

“Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/494]
17. Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H)
Beliau berkata,

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي، أم صليت خلف اليهود والنصارى، ولا يسلم عليهم، ولا يعادون، ولا يناكحون، ولا يشهدون، ولا تؤكل ذبائحهم

“Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun Saya mengerjakan shalat di belakang orang-orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk mereka.” [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]
18. Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini dan hadits-hadits adalah para shahabat Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalamAl-Kifâyah hal. 49]
19. Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]
20. Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)

Beliau berkata,

واعلم أن الأهواء كلها ردية، تدعوا إلى السيف، وأردؤها وأكفرها الرافضة، والمعتزلة، والجهمية، فإنهم يريدون الناس على التعطيل والزندقة

“Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl dan kezindiqan.” [Syarh As-Sunnah hal. 54]
21. Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W. 385 H)
Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka berkhianat, serta mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid’ah berupa Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu’tazilah.” [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah hal. 251-252]
22. Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.” [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]
23. Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nûniyah-nya,

إن الروافضَ شرُّمن وطيءَ الحَصَى … من كلِّ إنسٍ ناطقٍ أو جانِ

مدحوا النّبيَ وخونوا أصحابه … ورموُهمُ بالظلمِ والعدوانِ

حبّوا قرابتهَ وسبَّوا صحبه … جدلان عند الله منتقضانِ

Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan
Dari seluruh manusia yang berbicara dan seluruh jin
Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya berkhianat
Dan mereka menuduh para shahabat dengan kezhaliman dan permusuhan
Mereka (mengaku) mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para shahabat beliau
Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah
[Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]
24. Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan kudeta dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka.” [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah2/551]
25. Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh (W. 543 H)
Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammadshallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.” [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]
26. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H)
Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah) tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (kaum Rafidhah) itu.” [Minhâj As-Sunnah 1/160]
Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At-Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara.” [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]
*Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-Dhâl hal. 90-110